Senin, 31 Agustus 2015

INGIN TAMPIL CANTIK

Mempropagandakan pola hedonisme dan materialisme.

Rasulullah saw sudah mengingatkan kita lewat sabdanya, dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk darinya”. (HR. Abu Daud no. 4031, shahih)

Dari Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah Saw bersabda, “Kalian pasti akan mengikuti langkah-langkah orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal atau sehasta demi sehasta, sampai walaupun mereka masuk ke dalam lubang biawak, kalian pun memasukinya.” Para shahabat bertanya: “Apakah yang dimaksud adalah Yahudi dan Nashara?” Beliau menjawab: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (Muttafaqun ‘Alaihi)

"Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kerudungnya ke dadanya" (QS An-Nur:31)

SAKIT HATI

sakit hati
Hampir setiap orang tentu pernah mengalami sakit hati dalam hidupnya.

Baik dalam keluarga, bersahabat, mahupun bermasyarakat.

Sebagaimana sifat sedih dan gembira, rasa  ini adalah suatu kewajaran dalam hidup manusia.

Apatah lagi,  manusia adalah mahluk yang bersosial, yang dalam setiap interaksinya tidak lepas dari kekhilafan.

Sebab-sebab datangnya perasaan ini pun bermacam-macam.

Dari masalah yang simple hingga masalah besar, dapat menjadi penyebabnya.

Misalnya bermula dari perbezaan pendapat, adanya konflik atau ketidakserasian, sehingga iri hati dan dengki.

Bila perasaan ini dibiarkan terlalu lama membengkak dalam hati, maka akan tidak sihatlah hati itu. Pemiliknya pun akan stress dan tidak akan ceria. Lebih parah lagi, perkara ini dapat menjauhkan manusia dari RabbNya.

Na’udzubillaahi mindzaalik.

Bagaimana menangani rasa sakit hati, agar tidak menjemput dosa kepada kita sendiri?

Antara petua – petua yang diajarkan oleh Rasulullah untuk dijadikan penawar sakit hati adalah :

1. Muhasabah Diri

Sebelum kita menyalahkan orang lain, seharusnyalah kita melihat diri kita sendiri. Mungkin kita sakit hati oleh kata – kata saudara kita, padahal dia tak bermaksud menyakiti. Cuba bertanya pada diri sendiri, mengapa saudara kita  bersikap demikian.

Jangan-jangan kita sendiri yang telah membuat kesalahan kepadanya.

2. Menjauhkan Diri dari Sifat Iri Hati Dan Dengki

Iri hati dan dengki adalah beberapa ruang  yang menjadi pintu bagi syaitan untuk memasuki hati manusia.

Angan – angan yang berlebihan, dapat membuat seseorang buta dan tuli.

Bila tidak dilandaskan iman, seorang yang berangan – angan cenderung akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang dicitanya.

Demikian sifat iri hati dan dengki.

Sifat ini berasal dari kecintaan terhadap hal-hal yang bersifat material, kehormatan, dan pujian. Manusia tidak akan tenang bila dalam hatinya ada sifat ini.

Manusia juga tak akan pernah berasa bersyukur, kerana selalu merasa kurang. Dia selalu memandang ke atas, dan seolah tidak rela melihat orang lain memiliki kelebihan melebihi dirinya. Maka hapuskanlah terlebih dahulu sikap cintai dunia, sehingga dengki  menghilang

Rasulullah bersabda,

“Tidak boleh dengki kecuali kepada dua orang. Iaitu orang yang diberi harta oleh Allah, kemudian membelanjakannya di jalan yang benar. Dan orang yang diberi hikmah oleh Allah, kemudian memutuskan persoalan dengannya dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

3. Menjauhkan Diri dari Sifat Amarah dan Keras Hati.

Bila marah telah timbul dalam hati manusia, kadangkala manusia bertindak tanpa pertimbangan akal. Jika akal sudah lemah, tinggallah hawa nafsu. Dan syaitan pun leluasa melancarkan serangannya, lalu mempermainkan diri manusia.

Ibnu Qudamah dalam Minhajul Qashidin menyebutkan bahawa Iblis pernah berkata, “Jika manusia keras hati, maka kami akan membaliknya sebagai anak kecil yang membalik bola.”

4. Memupuk Sifat Pemaaf.

“Jadilah engkau pemaaf, dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” Surah Al-A’raf : 199.

Allah sang Khaliq, Maha Pemaaf terhadap hambaNya. Tak kira sebesar gunung atau sedalam lautan kesalahan seorang hamba, jika dia bertaubat dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan membukakan pintu maaf selebar-lebarnya.

Kita sebagai manusia yang lemah, tidak sepatutnya berlaku sombong, dengan tidak mahu memaafkan kesalahan orang lain, sebelum dia meminta maaf. Insya Allah, dengan begitu, hati akan lebih terasa lapang.

Rasulullah bersabda

“Bertakwalah kepada Allah di mana engkau berada, tindaklanjutilah kesalahan dengan kebaikan, nescaya kebaikan tersebut menghapus kesalahan tersebut, dan bergaulah dengan manusia lain dengan akhlak yang baik.” (HR. Hakim dan At-Tirmidzi).masih banya tapi @suliyat dah capek nulis nya

INGIN CEPAT KAYA

Sedekah membuat kaya

Setiap manusia yang hidup di bumi sudah di atur tentang rezekinya dan Allah akan menjamin harta-harta orang yang besedekah. Jangan takut miskin jika bersedekah,karena sedekah Allah akan melipat gandakan rezeki orang yang memberi sedekah. Allah Ta’ala berfirman;

“Sesungguhnya orang yang bersedekah baik laki-laki mahupun perempuan dan meminjamkan kepada kepada Allah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan di lipat gandakan (ganjaran) kepada mereka pahala yang banyak.”(Qs Al Hadid :18)

Oranga yang bersedekah akan mendapat naungan di hari akhirat. Rasulullahmenceritakan tenang 7 jenis manusia yang mendapat naungan di suatu hari yang ketika itu tidak ada naungan lagi selain naungan dari Allah.
Sedekah dapat menghapus dosa. Rasulullah bersabda ” Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimna air memadamkan api.” (HR. Tarmidzi)

Jumat, 28 Agustus 2015

DOA MOHON PETUNJUK

Doa mohon petunjuk, ampunan, rahmat dan rezki

اَللَّهُمَّ انْصُرْناَ فإِنَّكَ خَيْرُالنَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَناَ فَإِنَّكَ خَيْرُالْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْلَناَ فَإِنَّكَ خَيْرُالْغاَفِرِيْنَ وَارْحَمْناَ فَإِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْناَ فإِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقَيْنَ وَاهْدِناَوَنَجِّناَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالكاَفِرِيْنَ.

Allahumman shurnaa fainnaka khairun nashiriin, waftahlanaa fainnaka khairul fatihiin wag fir lanaa fainnaka khairul gaafiriin warhamnaa fainnaka khairur raahimiin war zuqnaa fainnaka khairur raazikiin wahdinaa wanajjinaa minal qaumiz zhaalimiina wal kaafiriin.

Ya Allah tolonglah kami, sesungguhnya engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah adalah pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya engkau adalah maha pemberi ampunan . rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik Pemberi rahmat. Berilah kami rezeki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik Pemberi rezeki . tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang zhalim dan kafir.

Rabu, 19 Agustus 2015

RESEP BAKSO SRI REJEKI PASAR BARU PUJON

Resep Cara membuat bakso SRI REJEKI PUJON

Daging sapi pilihan kenyal tanpa bahan kimia pengenyal

Bahan Bakso :
1 kilogram daging sapi
40 gram tepung kanji
1/2 sdt lada bubuk
1 sdt garam
1 sdm bawang putih
2 sdm bawang merah goreng
40 gram es batu, hancurkan
2000 ml air

Bahan Kuah
200 gr tulang sapi
3000 ml air
Bumbu kuah :

5 buah bawang merah dibersihkan, goreng, haluskan
7 siung bawang putih, bersihkan, goreng, haluskan
1/2 sdm bawang goreng jadi, haluskan
2 sdt kaldu sapi instan
2 sdt gula pasir
1 sdm garam dapur
1/2 sdt merica
4 btg daun bawang, diambil bagian putihnya. Iris halus
Selamat mencoba
@suliyat raguptex

Selasa, 18 Agustus 2015

Tempat karaoke Pujon

A. Pengertian
1. Musik
Musik dalam bahasa Arab modern disebut dengan sebutan al-musiqa (الموسيقى). Dimana sebenarnya istilah al-musiqa dalam bahasa Arab adalah serapan dari bahasa Yunani, yang asalnya dari kata mousike.
The Muses adalah sebutan untuk sembilan dewi atau anak perempuan Dewa Zeus dengan salah seorang istrinya, Mnemosyne. Dalam legenda mitologi Yunani, Zeus adalah rajanya para dewa.
Namun di dalam nash-nash syar’i, istilah yang sering digunakan untuk alat-alat musik antara lain adalah al-mi’zaf (المعزف) atau al-ma’azif (المعازف) dalam bentuk jamak. Ma’azif kemudian didefinisikan sebagai :
الْمَلاَعِبُ الَّتِي يُضْرَبُ بِهَا
Alat yang dimainkan dengan cara memukul-mukulnya
Atau terkadang juga disebut dengan :
آلَةُ الطَّرَبِ كَالْعُودِ وَالطُّنْبُورِ
Alat musik pukul seperti tongkat dan tambur.
Ada beberapa jenis alat musik yang seringkali disebut-sebut di dalam nash syar’i, baik di dalam hadits atau pun di dalam kitab-kitab fiqih yang disusun oleh para ulama.
Di antara alat-alat musik itu adalah ad-duff (الدفّ), al-kubah (الكوبة), al-kabar (الكبر), al-yara’(اليراع), adh-dharbu bil qadhib (الضرب بالقضيب), al-‘uud (العود), ash-shaffaqatan (الصفقتان).
2. Lagu
Sedangkan lagu atau nyanyian dalam istilah bahasa Arab sering disebut dengan al-ghina (الغناء). Secara bahasa bermakna ash-shautu (الصوت) yaitu suara.
Kata al-ghina’ sendiri seringkali didefinisikan para ahli bahasa dengan :
التَّطْرِيبُ وَالتَّرَنُّمُ بِالْكَلاَمِ الْمَوْزُونِ وَغَيْرِهِ يَكُونُ مَصْحُوبًا بِالْمُوسِيقَى
Nyanyian dan lagu dengan menggunakan suara (vocal) yang teratur, dan sering diiringi dengan alat-alat musik

Hukum islam ada 5 perkara

Salah satu faidah dalam mengetahui hukum ini adalah berkaitan dengan dakwah itu sendiri, adakalanya harus bertindak tegas, ada kalanya harus bisa bersikap tolerir. Faidah lainnya terkait dengan bagaimana menyikapi sesuatu baru. Sesuatu yang baru, yang belum ditetapkan hukumnya maka harus kaji dahulu hukumnya, tidak serta merta dikatakan haram. Didalam syari’at, setidaknya ada 5 hukum syara’ yang disepakati oleh Jumhur Ulama yakni :


1. Wajib, kadang disebut Fardlu. Keduanya sinonim. Yakni sebuah tuntutan yang pasti (thalab jazm) untuk mengerjakan perbutan, apabila dikerjakan mendapatkan pahala, sedangkan bila ditinggalkan maka berdosa (mendapatkan siksa). Contohnya, shalat fardlu, bila mengerjakannya maka mendapatkan pahala, bila ditinggalkan akan diadzab di neraka, demikian juga dengan kewajiban-kewajiban yang lainnya.

Wajib terbagi menjadi dua yakni : Pertama, wajib ‘Ainiy : kewajiban bagi setiap individu. Kedua, wajib Kifayah : kewajiban yang apabila sudah ada yang mengerjakannya maka yang lainnya gugur (tidak mendapatkan dosa), contohnya seperti shalat jenazah, tajhiz jenazah (mengurus jenazah), menjawab salam dan sebagainya.

Istilah Wajib juga ada yang mensinonimkan dengan Lazim. Sebagian ulama ada yang membedakan antara Fardlu dan Wajib hanya pada beberapa permasalahan di Bab Haji.

Ada juga yang membedakan antara Fardlu dan Wajib, seperti Hanafiyah. Menurut mereka, Fardlu adalah sesuatu yang telah ditetapkan dengan dalil syar’i (maqthu’ bih) dan tidak ada keraguan didalamnya, seperti shalat 5 waktu, zakat, puasa, haji, iman kepada Allah. Hukum Fardlu adalah lazim (wajib) baik secara keyakinan maupun perbuatan sehingga apabila mengingkari (secara keyakinan) pada salah satu kefardluan itu maka kafir, namun bila meninggalkan saja (tidak mengerjakannya, seperti shalat 5 waktu dan semacamnya) maka fasiq. Sedangkan Wajib adalah kewajiban yang ghairul fardl (selain fardlu), sesuatu yang ditetapkan dengan dalil namun masih ada kemungkinan ketidak pastian (hasil ijtihad), hukumnya lazim secara perbuatan saja, tidak secara keyakinan. Apabila mengingkarinya, tidak sampai kafir namun terjatuh dalam syubhat. Sedangkan bila meninggalkannya maka berdosa dengan dosa yang kadarnya lebih sedikit daripada meninggalkan perbuatan yang sifatnya Fardlu, sebab kalau meninggalkan yang bersifat Fardlu maka disiksa dineraka, sedangkan meninggalkan yang sifatnya Wajib, tidak disiksa di neraka, namun ia terhalang dari syafa’at Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam.

Jumhur ulama tidak membedakan antara Fardlu dan Wajib, bahkan ada yang menyatakan bahwa pembedaan seperti itu tidak tepat dan tidak berarti apa-apa.

2. Sunnah, disebut juga Mandub, Mustahabb, Tathawwu, Al-Nafl, Hasan dan Muragghab fih. Semuanya bersinonim. Yakni sebuah anjuran mengerjakan yang sifatnya tidak jazm (pasti), apabila dikerjakan mendapat pahala, namun apabila ditinggalkan tidak berdosa.

Sunnah juga terbagi menjadi 2, yaitu : Pertama, sunnah ‘Ain : sesuatu yang disunnahkan pada setiap orang (individu) yang mukallaf, seperti shalat-shalat sunnah ratibah dan lainnya. Kedua, sunnah Kifayah : sesuatu yang disunnahkan, apabila ada sebagian yang telah mengerjakannya, maka yang lain gugur, seperti seseorang memulai salam ketika bersama jama’ah (memulai bukan menjawab, penj), dan lain sebagainya. Sehingga bila sudah ada yang mengerjakannya, maka hilang (gugur) tuntutan terhadap yang lainnya, namun pahalanya bagi yang mengerjakan saja.

Sebagian ulama seperti Malikiyah membedakan antara istilah sunnah dan mandub. Sunnah menurut mereka adalah sebuah tuntutan syara’, bentuk perintahnya sangat ditekankan, namun tidak ada dalil yang mewajibkannya, apabila dikerjakan mendapat pahala, namun apabila ditinggalkan tidak disiksa, seperti shalat witir dan shalat hari raya. Sedangkan mandub adalah sebuah tuntutan syara’ yang tidak jazm (tidak pasti), bentuk perintahnya tidak terlalu ditekankan, apabila dikerjakan mendapat pahala, namun bila tidak dikerjakan tidak disiksa,

Bakso Sri Rejeki

Bakso Sri Rejeki pasar baru Pujon.
TERBUAT DARI DAGING SAPI PULIHAN DENGAN DI KELOLAH OLEH SEORANG PROFESIONAL BERPENGALAMAN PULUHAN TAHUN
KOMPOSISI
1kg daging sapi
4on tepung tapioka
BUMBU
bawang
Garam
Gula
Roico
Telur (secukup nya)
BUKTIKAN DAN COBAK ANDA BIKIN SENDIRI HA HA HA